Rabu, 27 Februari 2019

(Cernak) Hendri si Pengantar Kue oleh Elfi Ratna Sari


  Dimuat di Koran SOLOPOS edisi Minggu, 26 November 2017


Setiap pulang sekolah, Hendri mengambil sisa kue yang dititipkannya ke kantin sekolah. Biasanya bersamaan dengan itu, Ibu Kantin akan memberikan uang hasil penjualan. Tidak ketinggalan, Ibu yang bertubuh gemuk itu akan tersenyum menyambut kedatangannya. Beliau memang sosok yang ramah pada semua orang. Tidak terkecuali pada Hendri yang memang lebih dekat dengan beliau karena urusan penjualan kue.
Tapi tidak hari ini. Ketika Hendri sampai di kantin, Ibu Kantin terlihat murung. Wajahnya tampak sedih ketika memberesi dagangan. Melihat itu, Hendri jadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi? Dia pun segera menghampiri Ibu Kantin, dan memutuskan untuk membantu beliau membereskan dagangan. Mungkin Ibu Kantin sedang sangat lelah karena kantinnya memang selalu ramai. Apalagi semenjak Hendri menitipkan kue buatan ibunya yang rasanya enak dan harganya terjangkau untuk anak SD.
“Biar Hendri bantu, Bu. Ibu pasti lelah,” ucap Hendri langsung mengangkat piring-piring bekas anak-anak makan.
“Eh, tidak usah, Hendri. Ibu bisa melakukannya sendiri. Lagi pula sudah hampir selesai.”
Tapi bukan Hendri namanya kalau ketika membantu hanya setengah-setengah. Dia tetap membawa piring-piring kotor ke tempatya. Kemudian tanpa merasa keberatan langsung mencuci piring-piring itu hingga bersih dan wangi.
“Hendri,” panggil Ibu Kantin.
Dia pun segera mengelap tangannya yang basah menggunakan serbet, kemudian mendekati asal susara.
“Terima kasih sudah membantu Ibu, ya. Ini keranjang kuenya.”
Hendri mengangguk. Sambil terus memerhatikan Ibu Kantin.
“Kenapa Ibu sedih? Apa kuenya kurang laku hari ini?”
“Ah, tidak. Hari ini malah laku semua. Tapi besok, Ibu Hendri tidak bisa titip kue di Kantin Ibu. Soalnya Ibu tidak berjualan. Anak Ibu sedang dirawat di rumah sakit. Jadi Ibu harus menjaganya. Dan ini uang penjualan kue hari ini. Totalnya seratus tiga puluh empat ribu.”
Tak lama setelah menyerahkan uang pada Hendri, Ibu Kantin lansung bergegas pulang. Beliau tampak tidak tenang dan tergesa-gesa. Hendri tidak heran.  Sebab dulu ketika dia sakit, ibunya juga seperti itu.
***
Sambil berjalan pulang, Hendri menghitung uang yang diterima. Khawatir kalau tadi saat menerima, tidak sengaja ada yang terjatuh. Atau kalau tidak, Ibu Kantin salah menghitung, sehingga uangnya kurang. Bagaimanapun selama ini orang-orang menjulukinya sebagai anak yang bisa dipercaya. Jadi kalau uangnya kurang, takutnya disangka dia yang mengambil.
“Lima puluh ribu, seratus ribu, seratus dua puluh, seratus dua puluh empat ….”
Saat jari Hendri menyentuh lembar uang terakhir, dia kaget. Ternyata itu bukan uang sepuluh ribu, namun seratus ribu.
“Tadi kata Ibu Kantin uangnya seratus tiga puluh empat ribu, tapi ini dua ratus dua puluh empat ribu.  Jangan-jangan karena khawatir dengan anaknya, Ibu Kantin tidak sadar, mengira uang seratus ribu ini adalah uang sepuluh ribu?”
Hendri merasa senang sekaligus ragu.
Dia sedang ingin tas baru, karena tasnya sudah lumayan rusak. Dengan uang sembilan puluh ribu itu, dia bisa beli tas baru. Toh tidak ada yang tahu kalau uangnya kelebihan. Tapi … uang itu milik Ibu Kantin. Pasti Ibu Kantin kebingungan saat menghitung uang hasil dagangannya. Apalagi anaknya sedang dirawat di rumah sakit, jadi pasti butuh biaya besar.
“Tapi aku ingin tas,” gumamnya.
Pada akhirnya dia berjalan menuju toko tas. Namun ketika sampai, bukannya masuk ke toko, dia malah melangkah ke sebuah rumah di samping toko.
Ternyata itu rumah Ibu Kantin. Ibu Kantin sedang mengunci pintu rumah itu dari luar, mungkin akan ke rumah sakit.
“Ini, uang Ibu kelebihan sembilan puluh ribu.”
Hendri menyerahkan uang itu pada Ibu Kantin. Ibu Kantin tersenyum menerimanya.
“Terima kasih, Hendri. Kamu memang anak yang jujur.”
Bagi Hendri, punya tas baru memang menyenangkan, tapi kalau membelinya dengan uang yang bukan miliknya sendiri, rasanya tidak akan semenyenangkan yang dibayangkan. Karena dia pasti akan merasa bersalah terus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar