Dimuat di Koran SOLOPOS edisi Minggu, 26 November 2017
Setiap
pulang sekolah, Hendri mengambil sisa kue yang dititipkannya ke kantin sekolah.
Biasanya bersamaan dengan itu, Ibu Kantin akan memberikan uang hasil penjualan.
Tidak ketinggalan, Ibu yang bertubuh gemuk itu akan tersenyum menyambut
kedatangannya. Beliau memang sosok yang ramah pada semua orang. Tidak
terkecuali pada Hendri yang memang lebih dekat dengan beliau karena urusan
penjualan kue.
Tapi
tidak hari ini. Ketika Hendri sampai di kantin, Ibu Kantin terlihat murung. Wajahnya
tampak sedih ketika memberesi dagangan. Melihat itu, Hendri jadi penasaran apa
yang sebenarnya terjadi? Dia pun segera menghampiri Ibu Kantin, dan memutuskan
untuk membantu beliau membereskan dagangan. Mungkin Ibu Kantin sedang sangat
lelah karena kantinnya memang selalu ramai. Apalagi semenjak Hendri menitipkan
kue buatan ibunya yang rasanya enak dan harganya terjangkau untuk anak SD.
“Biar
Hendri bantu, Bu. Ibu pasti lelah,” ucap Hendri langsung mengangkat
piring-piring bekas anak-anak makan.
“Eh,
tidak usah, Hendri. Ibu bisa melakukannya sendiri. Lagi pula sudah hampir
selesai.”
Tapi
bukan Hendri namanya kalau ketika membantu hanya setengah-setengah. Dia tetap
membawa piring-piring kotor ke tempatya. Kemudian tanpa merasa keberatan
langsung mencuci piring-piring itu hingga bersih dan wangi.
“Hendri,”
panggil Ibu Kantin.
Dia
pun segera mengelap tangannya yang basah menggunakan serbet, kemudian mendekati
asal susara.
“Terima
kasih sudah membantu Ibu, ya. Ini keranjang kuenya.”
Hendri
mengangguk. Sambil terus memerhatikan Ibu Kantin.
“Kenapa
Ibu sedih? Apa kuenya kurang laku hari ini?”
“Ah,
tidak. Hari ini malah laku semua. Tapi besok, Ibu Hendri tidak bisa titip kue
di Kantin Ibu. Soalnya Ibu tidak berjualan. Anak Ibu sedang dirawat di rumah
sakit. Jadi Ibu harus menjaganya. Dan ini uang penjualan kue hari ini. Totalnya
seratus tiga puluh empat ribu.”
Tak
lama setelah menyerahkan uang pada Hendri, Ibu Kantin lansung bergegas pulang. Beliau
tampak tidak tenang dan tergesa-gesa. Hendri tidak heran. Sebab dulu ketika dia sakit, ibunya juga
seperti itu.
***
Sambil
berjalan pulang, Hendri menghitung uang yang diterima. Khawatir kalau tadi saat
menerima, tidak sengaja ada yang terjatuh. Atau kalau tidak, Ibu Kantin salah
menghitung, sehingga uangnya kurang. Bagaimanapun selama ini orang-orang
menjulukinya sebagai anak yang bisa dipercaya. Jadi kalau uangnya kurang,
takutnya disangka dia yang mengambil.
“Lima
puluh ribu, seratus ribu, seratus dua puluh, seratus dua puluh empat ….”
Saat
jari Hendri menyentuh lembar uang terakhir, dia kaget. Ternyata itu bukan uang
sepuluh ribu, namun seratus ribu.
“Tadi
kata Ibu Kantin uangnya seratus tiga puluh empat ribu, tapi ini dua ratus dua
puluh empat ribu. Jangan-jangan karena
khawatir dengan anaknya, Ibu Kantin tidak sadar, mengira uang seratus ribu ini
adalah uang sepuluh ribu?”
Hendri
merasa senang sekaligus ragu.
Dia
sedang ingin tas baru, karena tasnya sudah lumayan rusak. Dengan uang sembilan
puluh ribu itu, dia bisa beli tas baru. Toh tidak ada yang tahu kalau uangnya
kelebihan. Tapi … uang itu milik Ibu Kantin. Pasti Ibu Kantin kebingungan saat
menghitung uang hasil dagangannya. Apalagi anaknya sedang dirawat di rumah sakit,
jadi pasti butuh biaya besar.
“Tapi
aku ingin tas,” gumamnya.
Pada
akhirnya dia berjalan menuju toko tas. Namun ketika sampai, bukannya masuk ke
toko, dia malah melangkah ke sebuah rumah di samping toko.
Ternyata
itu rumah Ibu Kantin. Ibu Kantin sedang mengunci pintu rumah itu dari luar,
mungkin akan ke rumah sakit.
“Ini,
uang Ibu kelebihan sembilan puluh ribu.”
Hendri
menyerahkan uang itu pada Ibu Kantin. Ibu Kantin tersenyum menerimanya.
“Terima
kasih, Hendri. Kamu memang anak yang jujur.”
Bagi
Hendri, punya tas baru memang menyenangkan, tapi kalau membelinya dengan uang
yang bukan miliknya sendiri, rasanya tidak akan semenyenangkan yang
dibayangkan. Karena dia pasti akan merasa bersalah terus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar