Aku mengirim 5 puisi tanggal 14 Desember 2016. 3 puisi lama dan 2 puisi baru. Sayang hanya dimuat 4 puisi, sehingga ada 1 puisi kurang beruntung. Mungkin karena sudah penuh halamannya, ya.
Selamat membaca ^_^ /
Ajal Sang Peracun
Tirus
daging penyemat pipi
Masih
kau sempatkan diri melongo dengan raungan,
“Ampun!
Ampun! Ampuni aku, Tuan!”
Lantas,
jika mengemis macam itu
Kembalikah
nyawa-nyawa yang kau racun bubuk setan?
Sudah
pasti tidak
Kau
biar mereka meronta di atas kenikmatan sesat
Lebur
pikirnya
Musnah
melayang bersama suntik percik neraka
Memendungkan
titih masa depan
Yang
kau peduli hanya kantong-kantong timbunmu menguang
Bersendau
gelak memantul
Meniadakan
hukum ranah kau singgah
Kosong!
Tanpa
sezahrah kasihan.
“Bentangkan
senjata pada pemusnah sayap pemuda!”
Sorakan
tertepat diplangkan padamu
Tundukan
ke-tak-sangupan menganyami selaput otak
Meruncing
pikir,
‘Selamatkanku,
Tuhan.’
Tak
tahu malu!
Kencang
dulu kau rimbun dosa
Bukankah
di kelakah buku Atid tercatat bukti-bukti selundup haram?
Bahkah,
Pernah
kau simpan di lambung
Tercampur
dengan nasi busuk haram pula
Kau
meminta tangan Tuhan berbelas kasih?
Tuhan
takkan bodoh!
Siapkan
saja ragamu tergiring di riap-riap petang
Mata
dibekam kain hitam
Tertunduk
di tengah hutan
Di
sebrang ....
Ajudan
mengongkang senjata
Berbaris
sama
Satu
di antara pistol berisi bogem memanaskan jantung
Telah
siap menghunus kasar nyawa pembunuh pelan
Penghancur
masa depan selayakmu
Pati,
5 Maret 2015
Rindu Melingkari Doa
Terlingkar
bentangan rindu mengulum doa
Akan
sesosok penggembala aksara penoreh angkara
Meski
koyak hati tercecer dirobeknya
Namun
tak kuhenti sepertiga malam mengepul sebut nama
Samar
tapa coret-coret pinta bertahta
Menjimati
orkestra ingin suatu masa bersapa
Di
mana akan ada sunyi bernyanyi lalala
Cangggung
berderu embus napas saat bertatap muka
Biar
kuramukan cinta saat telapak membentuk mangkok meminta
Lalu,
bila kembali, sebuah warta mengisah ‘berdua’
Dikikis
oleh embun pagi, tangis dulu sepeninggal kata
Kumohon
usapkan kuncup jemari-Mu lewat tangan nan ‘kan terpanggil Papa
Pati,
8 Maret 2015
Kaparan
Tanah Lahirku
Setumpuk
rencana kau bentangkan
Mengeruk
harta persinggahan diri
Kecipak
tawa berduyun
Berkuasa
dengan sekarung Sukarno-Hatta
Enak
benar kau susuri dengan lenggokan
Menujum
tiap jengkal kerat-kerat untung
Lantas
bagaimana nasib nama kotaku?
“Gemah
ripah loh jinawi” jadi ilusi?
Hah!
Tak kutarik kailmu
Jala
nan ditebar pun kan tertentang
Ini
tanah lahirku
Tak
kubiar kau gambarkan rusak
Pati,
bumi mina tani
Jangan
kau layukan!
Persinggahan
hamparan polowijo dan pepadian
Menangis
membaur pedih jika tadah air berserakan
Lihat
sekelebat saja, wahai Pedasi
Pertiwiku
berjelma asri
Dengan
katup bergelimpahan kaparan pangan
Jangan
kau seokkan dengan cemarnya lingkungan
Pati,
30 Maret 2015
Aku
Ingin …
Aku sedang tidak ingin
apa-apa selain menemuimu
Di sudut yang waduknya
beriak
Lalu kaki-kaki kita
menjuntai di pinggir tambatan perahu
Menikmati aksen oranye
berpendar-pendar
Aku ingin merayapi
sekelumit ucapanmu
Yang, “Kau adalah
rembulan pucat di kala dingin
Ingin kupeluk lalu
kecup
Setelahnya kusisipkan
ungkapan cinta.”
Aku sedang menunggu
dalam kepapaan
Dengan ingar bingar
sekitar
Dengan pilihan-pilihan
tak terpiih
Dengan harap-harap
dijejali cemas
Aku ingin menanamkan
serangkaian sajak
Menyiraminya dengan
diksi-diksi indah
Berharap tumbuh
bunga-bunga mewangi
Kukaragkan demi
kedatanganmu
Pati, 11 Desember 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar