Sabtu, 17 Desember 2016

(Puisi) Sajak-sajak Elfi Ratna Sari di Lampung Post 18 Desember 2016


 
Aku mengirim 5 puisi tanggal 14 Desember 2016. 3 puisi lama dan 2 puisi baru. Sayang hanya dimuat 4 puisi, sehingga ada 1 puisi kurang beruntung. Mungkin karena sudah penuh halamannya, ya.

Selamat membaca ^_^ /


Ajal Sang Peracun

Tirus daging penyemat pipi
Masih kau sempatkan diri melongo dengan raungan,
“Ampun! Ampun! Ampuni aku, Tuan!”
Lantas, jika mengemis macam itu
Kembalikah nyawa-nyawa yang kau racun bubuk setan?
Sudah pasti tidak

Kau biar mereka meronta di atas kenikmatan sesat
Lebur pikirnya
Musnah melayang bersama suntik percik neraka
Memendungkan titih masa depan

Yang kau peduli hanya kantong-kantong timbunmu menguang
Bersendau gelak memantul
Meniadakan hukum ranah kau singgah
Kosong!
Tanpa sezahrah kasihan.

“Bentangkan senjata pada pemusnah sayap pemuda!”
Sorakan tertepat diplangkan padamu

Tundukan ke-tak-sangupan menganyami selaput otak
Meruncing pikir,
‘Selamatkanku, Tuhan.’
Tak tahu malu!

Kencang dulu kau rimbun dosa
Bukankah di kelakah buku Atid tercatat bukti-bukti selundup haram?
Bahkah,
Pernah kau simpan di lambung
Tercampur dengan nasi busuk haram pula

Kau meminta tangan Tuhan berbelas kasih?
Tuhan takkan bodoh!

Siapkan saja ragamu tergiring di riap-riap petang
Mata dibekam kain hitam
Tertunduk di tengah hutan
Di sebrang ....
Ajudan mengongkang senjata
Berbaris sama
Satu di antara pistol berisi bogem memanaskan jantung
Telah siap menghunus kasar nyawa pembunuh pelan
Penghancur masa depan selayakmu

Pati, 5 Maret 2015


Rindu Melingkari Doa

Terlingkar bentangan rindu mengulum doa
Akan sesosok penggembala aksara penoreh angkara
Meski koyak hati tercecer dirobeknya
Namun tak kuhenti sepertiga malam mengepul sebut nama

Samar tapa coret-coret pinta bertahta
Menjimati orkestra ingin suatu masa bersapa
Di mana akan ada sunyi bernyanyi lalala
Cangggung berderu embus napas saat bertatap muka

Biar kuramukan cinta saat telapak membentuk mangkok meminta
Lalu, bila kembali, sebuah warta mengisah ‘berdua’
Dikikis oleh embun pagi, tangis dulu sepeninggal kata
Kumohon usapkan kuncup jemari-Mu lewat tangan nan ‘kan terpanggil Papa


Pati, 8 Maret 2015


 Kaparan Tanah Lahirku

Setumpuk rencana kau bentangkan
Mengeruk harta persinggahan diri
Kecipak tawa berduyun
Berkuasa dengan sekarung Sukarno-Hatta

Enak benar kau susuri dengan lenggokan
Menujum tiap jengkal kerat-kerat untung
Lantas bagaimana nasib nama kotaku?
“Gemah ripah loh jinawi” jadi ilusi?

Hah! Tak kutarik kailmu
Jala nan ditebar pun kan tertentang
Ini tanah lahirku
Tak kubiar kau gambarkan rusak

Pati, bumi mina tani
Jangan kau layukan!
Persinggahan hamparan polowijo dan pepadian
Menangis membaur pedih jika tadah air berserakan

Lihat sekelebat saja, wahai Pedasi
Pertiwiku berjelma asri
Dengan katup bergelimpahan kaparan pangan
Jangan kau seokkan dengan cemarnya lingkungan

Pati, 30 Maret 2015



Aku Ingin …

Aku sedang tidak ingin apa-apa selain menemuimu
Di sudut yang waduknya beriak
Lalu kaki-kaki kita menjuntai di pinggir tambatan perahu
Menikmati aksen oranye berpendar-pendar

Aku ingin merayapi sekelumit ucapanmu
Yang, “Kau adalah rembulan pucat di kala dingin
Ingin kupeluk lalu kecup
Setelahnya kusisipkan ungkapan cinta.”

Aku sedang menunggu dalam kepapaan
Dengan ingar bingar sekitar
Dengan pilihan-pilihan tak terpiih
Dengan harap-harap dijejali cemas

Aku ingin menanamkan serangkaian sajak
Menyiraminya dengan diksi-diksi indah
Berharap tumbuh bunga-bunga mewangi
Kukaragkan demi kedatanganmu

Pati, 11 Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar