Jumat, 30 Desember 2016

(Resensi) Jejak Kesabaran dan Keteguhan Hati Sri Ningsih" oleh Elfi Ratna Sari



Judul                : Tentang Kamu
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Republika
Cetakan           : II, Oktober 2016
Tebal               : vi + 524 hal
ISBN               : 978-602-0822-34-1

Zaman Zulkarnaen, seorang pengacara muda yang baru bekerja selama dua tahun di firma hukum Thomson & Co. ditugaskan untuk megurusi warisan seorang wanita 70 tahun. Menilik dari nama kliennya, Zaman akhirnya paham kenapa dia yang ditugaskan. Tidak lain karena seseorang bernama Sri Ningsih—yang meninggal di sebuah panti jompo di Paris, pemegang paspor Inggris serta izin menetap di Perancis—itu berasal dari Indonesia, seperti halnya dia. Yang mana kliennya ini memiliki kekayaan satu miliar poundsterling atau setara 19 triliun rupiah. Tapi langkahnya disulitkan dengan tidak adanya surat wasiat. Hanya ada sebuah diary berisi tulisan sepuluh halaman, dibagi menjadi lima bagian, masing-masing dua halaman. Setiap bagian hanya ada satu-dua paragraf pendek, beserta satu-dua foto yang ditempelkan di halaman bagian itu. Diary itu dia dapat dari Aimee, pengurus panti jompo yang ditinggali Sri di akhir hidupnya.
Di bab pertama diary Sri—atau yang dia sebut juz—Zaman dibuat pusing dengan kalimat; Di sini, di mana rumah-rumah yang tumbuh dari atas permukaan laut, perahu tertambat di tiang-tiang, dan kambing-kambing mengunyah kertas. (hal 48)
Apakah kambing yang dimaksud di sini kambing sungguhan atau hanya perumpaan?  Petunjuk lainnya adalah tulisan dalam foto Sri di bab itu. Yaitu Bungin. Ada banyak tempat yang bernama Bungin di Indonesia. Namun di atas semua itu, dengan bantuan Razak—salah satu pilot yang mengemudikan jet yang ditumpanginya, Zaman berhasil menemukan daerah di mana Sri lahir dan tinggal sampai berusia empat belas tahun, yaitu di Sumbawa. Tapi Zaman masih diharuskan mencari seseorang yang bisa menceritakan tentang kehidupan kliennya. Di sanalah dia bertemu dengan Ode—teman Sri. Dalam kehidupan awal ini, Sri yang mendapat sebutan sebagai anak yang dikutuk, belajar tentang kesabaran yang tiada batasnya, juga tentang pengabdian.
Zaman melanjutkan perjalanan menelusuri jejak kehidupan Sri karena di tempat tinggal kliennya sewaktu kecil itu, dia tidak menemukan ahli waris. Di juz kedua diary Sri tertulis; Di sini, di perkampungan santri dekat pabrik gula, dengan loji, kereta lori, cerobong raksasa menjadi saksi, betapa keserakahan bisa mengubah orang lain menjadi lebih dari hewan buas. (hal 141-142)
Di bagian ini, Zaman tidak pusing-pusing lagi mencari tujuan selanjutnya. Berdasarkan info dari Ode, dia tahu kalau Sri dan adik tirinya yang bernama Tilamuta pergi ke Surakarta atas bantuan Guru Bajang. Mereka berada di sebuah pondok besar milik Kiai Ma’sum. Di sana, Zaman bertemu dengan Nur’aini—putri bungsu Kiai Ma’sum sekaligus sahabat Sri. Di tempat itu, Sri memahami tentang persahabatan, kejujuran, juga pengkhianatan. Tapi kisah ini berakhir tragis karena menemukan Tilamuta meninggal dengan tubuh tercincang.
Berbekal surat-surat Sri yang dikirimkan untuk Nur’aini, Zaman melanjutkan perjalanan ke tempat yang pernah didatangi Sri selanjutnya. Di juz ketiga dalam diary tertulis; Di sini, di kota harapan ribuan pendatang berlabuh, tiap hari terminal, stasiun padat oleh penduduk baru. Lampu-lampu gemerlap, jalan-jalan luas, kawasan hijau semakin habis, orang-orang mengejar mimpi.(hal 209-210)
Jakarta, ibu kota Indonesia itulah yang dimaskud Sri. Setelah Zaman mendatangi satu per satu alamat yang tertulis di surat-suratnya dan hasilnya nihil, akhirnya dia bertemu dengan Chaterine—kepala pabrik yang dulunya adalah milik Sri. Lewat Chaterine Zaman mengetahui kisah Sri selanjutnya. Yaitu tentang keteguhan hati. Di sana Sri merasakan yang namanya jatuh bangun saat merintis usaha. Tapi ketika usahanya sedang berada di atas, tiba-tiba dia menjual 100% asetnya untuk 1% saham di perusahaan besar kemudian memutuskan pergi. Zaman penasaran, apa yang mendasari kepergian Sri?
Berbeda dengan juz-juz sebelumnya, di juz keempat ini, Sri langsung menulis nama tempat; Kota London, ibu kota Iggris, Eropa, dan dunia. Tempat berbagai suku bangsa, agama, ras, dan bahasa berkumpu. (hal 286)
Mau tidak mau, Zaman kembali ke London—kota tempatnya bekerja—untuk melanjutkan penelusurannya. Di London, Zaman bertemu dengan Lucy yang menceritakan potongan kisah hidup Sri selama di London. Disambung oleh keluarga Rajendra Khan—yang hampir setiap hari Zaman datang ke kedainya. Pada bagian ini menceritakan tentang cinta. Tentang seorang lelaki dari Turki bernama Hakan yang rela melakukan hal di luar nalar demi Sri. Tapi kejadiannya pun sama. Lagi-lagi Sri memutuskan pergi karena seperti melihat hantu di kehidupannya. Dan Zaman pun masih belum menemukan ahli waris Sri.
Di sini, di kota dengan Menara Eiffel yang indah dipandang mata, Sungai Seine mengalir elok. ( hal 475)
Juz terakhir dalam diary Sri ini menuliskan tentang penerimaan dan memeluk rasa sakit.
Zaman memutuskan kembali ke panti jompo untuk menyelesaikan penelusurannya.

Seperti kebanyakan novel Tere Liye yang lain, kisah yang mengambil setting di lima daerah, di tiga negara—Sumbawa, Surakarta, Jakarta, London, dan Paris—ini memakai alur maju mundur yang tersusun rapi. Sehingga membuat pembaca penasaran dengan potongan-potongan kisah Sri. Tapi bagi saya yang sudah banyak membaca karya-karya beliau, terasa butuh pembaharuan dalam alur. Ingin merasakan alur yang berbeda dari kebanyakan novel-novel Tere Liye.
Ada beberapa kesalahan tulis yang menurut saya mengganggu. Bahkan, saya sempat berpikir, apakah nama tokoh utama dalam novel ini selain dipanggil dengan Sri Ningsih, juga dipanggil dengan nama Sri Rahayu sebagai penanda dia adalah anak seorang yang bernama Rahayu? Tapi setelah saya pikir lagi, kemungkinan besar memang typo dalam penulisan nama. Di antaranya;
·         Rasa cinta yang begitu besar itu, lebih dari cukup untuk membuatnya juga menyayangi Sri Rahayu, meski hanya anak tiri. (hal 84)
·         Hari itu, tahun 1995, usia Sri Rahayu menjelang sembilan tahun, itulah terakhir kali Sri melihat bapaknya. (hal 96)
·         Tapi Sri Rahayu berhasil menyelamatkan adiknya, Tilamutta. (hal 137)
Saya bertanya-tanya kenapa penampilan Sri—perempuan bertubuh gempal, hitam dan pendek—setelah keluar dari pondok di Surakarta tidak memakai jilbab? Bukankah biasanya untuk seorang lulusan pondok yang juga pernah menjadi guru di sana, kemungkinan besar penampilannya akan berjilbab? Tapi kalau menilik tahunnya, memang sulit sekali menemukan perempuan berjilbab di tahun itu. Kalaupun ada, jilbab yang dipakainya pun jauh dari kata menutup aurat. Kebanyakan hanya kain tipis yang disampirkan.
Ketidaksingkronan usia Sri di BAB 8. Kesabaran Tiada Batas. Yaitu pada kalimat; Gadis berusia empat belas tahun itu, di detik terakhir, memutuskan menutupi kesalahan adiknya. (hal 117) dengan, Esok paginya, Ode menjenguk Sri sambil membawa makanan. Gadis usia lima belas tahun itu tampak mengenaskan. (hal 124). Dua kejadian itu terjadi pada malam dan keesokan paginya. Saya berpikir kemungkinan besar kalau sampai dalam jarak jam saja usianya berbeda, mungkin keesokan harinya adalah hari ulang tahun Sri. Tapi tidak dijelaskan, jadi saya menyimpulkan itu adalah sebuah kekeliruan.
Dari segi penampilan buku, saya suka sekali dengan covernya. Sepasang sepatu yang bisa diartikan sebagai perjalan hidup seseorang dalam menapaki setiap kisah. Atau juga barang kali sebagai isyarat seseorang yang memcari tahu jejak hidup orang lain. Cocok sekali dengan isi novel.
Kalau sudah menyebut sebuah buku adalah karangan Tere Liye, maka mustahil jika tidak berserakan quote di mana-mana. Bahkan, penulis yang tidak pernah menunjukkan prestasinya dalam biodata penulis di setiap bukunya ini pun dijulukki sebagai rajanya quote. Quote yang ada di novel ini di antaranya;
·         Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apa pun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya.(hal 48)
·         Betapa kesarakahan bisa mengubah orang lain menjadi lebih dari hewan buas. (hal 142)
·         Bukan berapa kali kita gagal, melainkan berapa kali kita bangkit lagi, lagi, dan lagi setelah gagal tersebut. (hal 210)
·         Jadilah seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru. (hal 278)
·         Cinta memang tidak perlu ditemukan, cinta-lah yang akan menemukan kita.(hal 286)
·         Aku tidak akan menangis karena sesuatu itu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. (hal 286)
·         Bagaimana jika semua hal menyesakkan itu ibarat hujan deras di tengah lapangan, kita harus melewati lapangan menuju tempat berteduh di sebrang, dan setiap tetes air hujan laksana setiap hal  menyakitkan dalam hidup? Bagaimana agar bisa tiba di tempat tujuan tanpa terkena satu tetes airnya? Yaitu dengan lompatlah ke tengah hujan, biarkan seluruh tubuh kuyup. Menarilah bersama setiap tetesnya, tarian penerimaan, jangan dilawan, karena sia-sia saja, kita pasti basah.
Seperti kebanyakan novel Tere Liye yang lain, dalam buku bergaya bahasa ringan dan sedikit nyastra ini pun menyisipkan humor. Salah satunya:
“Jika kita tinggal di tempat yang sedingin ini, katanya kita bisa putihan loh.” Nur’aini berkata pelan.
“Betulan, Nur?” Sri Tertarik.
“Kulitmu itu sudah gelap, Sri. Mau diaksih balok es juga begitu. Tidak akan berubah.” Mbak Lastri lebih dulu menjawab. (hal 170-171)
Sebuah buku yang tidak menggembar-gemborkan bahwa  ada kelucuan di dalamnya, tapi ternyata membuat tertawa, itu sungguh lebih menyenangkan daripada yang menggembar-gemborkan bahwa buku itu adalah cerita humor, tapi isinya tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Selain itu, buku yang menyiratkan pesan bahwa masa-masa menyakitkan harus dihadapi ini tentu saja dilengkapi dengan kisah mengharu biru, menyedihkan, juga membahagiakan. Benar-benar mengaduk-aduk perasaan.
Novel yang mengangkat tema penerimaan atas segala yang digariskan Tuhan ini juga menyinggung tentang;
·         Krisis K2Y atau millennium bug. Peralihan tahun 1999 menjadi tahun 2000. Di mana sistem penanda tahun komputer di seluruh dunia sudah terlanjur di-setting dengan dua digit. Maka, tahun 00 (merujuk tahu 2000), akan dianggap sama dengan 1900 oleh komputer. Dunia harus melakukan migrasi sistem besar-besaran, atau jika tidak, sistem keuangan, penerbangan, pengganjian, persenjataan, dan data-data penting akan menjadi kacau balau karena komputer keliru mengenali tanggal. (hal 33-34)
·         Kejadian G30S/PKI 1965. Pemberontakan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia pada 30 September 1965 dengan menghabisi tuan tanah, para kiai, dan militer. (hal 189-191)
·         Kejadian Malari, malapetaka 15 Januari 1974. Orang-orang menganggap Jepang terlalu menguasai ekonomi. Sehingga para pendemo mengincar apa pun yang bermerk Jepang untuk dibakar. (hal 249-251)
·         Transaksi menggunakan SPV. Yang mana Sri menjual 100% kepemilikan pabrik, dan sebagai imbalannya, perusahaan raksasa dunia memberikan 1% kepemilikan global absolut di perusahaan induknya. (hal 275-276)
Dan yang paling menarik saya adalah, asal mula kenapa dinamakan pedagang kaki lima, yang mana dulu VOC membuat peraturan setiap jalan harus punya trotoar minimal lima ‘kaki’ agar pejalan tidak senggolan. Karena bahasa Indonesia terbalik dengan bahasa bule jadilah ‘kaki lima’. (229)
Hal-hal itu tentu saja bisa menambah wawasan pembaca.
Pada akhirnya saya menyimpulkan buku ini cocok dibaca untuk semua umur.

Sabtu, 17 Desember 2016

(Puisi) Sajak-sajak Elfi Ratna Sari di Lampung Post 18 Desember 2016


 
Aku mengirim 5 puisi tanggal 14 Desember 2016. 3 puisi lama dan 2 puisi baru. Sayang hanya dimuat 4 puisi, sehingga ada 1 puisi kurang beruntung. Mungkin karena sudah penuh halamannya, ya.

Selamat membaca ^_^ /


Ajal Sang Peracun

Tirus daging penyemat pipi
Masih kau sempatkan diri melongo dengan raungan,
“Ampun! Ampun! Ampuni aku, Tuan!”
Lantas, jika mengemis macam itu
Kembalikah nyawa-nyawa yang kau racun bubuk setan?
Sudah pasti tidak

Kau biar mereka meronta di atas kenikmatan sesat
Lebur pikirnya
Musnah melayang bersama suntik percik neraka
Memendungkan titih masa depan

Yang kau peduli hanya kantong-kantong timbunmu menguang
Bersendau gelak memantul
Meniadakan hukum ranah kau singgah
Kosong!
Tanpa sezahrah kasihan.

“Bentangkan senjata pada pemusnah sayap pemuda!”
Sorakan tertepat diplangkan padamu

Tundukan ke-tak-sangupan menganyami selaput otak
Meruncing pikir,
‘Selamatkanku, Tuhan.’
Tak tahu malu!

Kencang dulu kau rimbun dosa
Bukankah di kelakah buku Atid tercatat bukti-bukti selundup haram?
Bahkah,
Pernah kau simpan di lambung
Tercampur dengan nasi busuk haram pula

Kau meminta tangan Tuhan berbelas kasih?
Tuhan takkan bodoh!

Siapkan saja ragamu tergiring di riap-riap petang
Mata dibekam kain hitam
Tertunduk di tengah hutan
Di sebrang ....
Ajudan mengongkang senjata
Berbaris sama
Satu di antara pistol berisi bogem memanaskan jantung
Telah siap menghunus kasar nyawa pembunuh pelan
Penghancur masa depan selayakmu

Pati, 5 Maret 2015


Rindu Melingkari Doa

Terlingkar bentangan rindu mengulum doa
Akan sesosok penggembala aksara penoreh angkara
Meski koyak hati tercecer dirobeknya
Namun tak kuhenti sepertiga malam mengepul sebut nama

Samar tapa coret-coret pinta bertahta
Menjimati orkestra ingin suatu masa bersapa
Di mana akan ada sunyi bernyanyi lalala
Cangggung berderu embus napas saat bertatap muka

Biar kuramukan cinta saat telapak membentuk mangkok meminta
Lalu, bila kembali, sebuah warta mengisah ‘berdua’
Dikikis oleh embun pagi, tangis dulu sepeninggal kata
Kumohon usapkan kuncup jemari-Mu lewat tangan nan ‘kan terpanggil Papa


Pati, 8 Maret 2015


 Kaparan Tanah Lahirku

Setumpuk rencana kau bentangkan
Mengeruk harta persinggahan diri
Kecipak tawa berduyun
Berkuasa dengan sekarung Sukarno-Hatta

Enak benar kau susuri dengan lenggokan
Menujum tiap jengkal kerat-kerat untung
Lantas bagaimana nasib nama kotaku?
“Gemah ripah loh jinawi” jadi ilusi?

Hah! Tak kutarik kailmu
Jala nan ditebar pun kan tertentang
Ini tanah lahirku
Tak kubiar kau gambarkan rusak

Pati, bumi mina tani
Jangan kau layukan!
Persinggahan hamparan polowijo dan pepadian
Menangis membaur pedih jika tadah air berserakan

Lihat sekelebat saja, wahai Pedasi
Pertiwiku berjelma asri
Dengan katup bergelimpahan kaparan pangan
Jangan kau seokkan dengan cemarnya lingkungan

Pati, 30 Maret 2015



Aku Ingin …

Aku sedang tidak ingin apa-apa selain menemuimu
Di sudut yang waduknya beriak
Lalu kaki-kaki kita menjuntai di pinggir tambatan perahu
Menikmati aksen oranye berpendar-pendar

Aku ingin merayapi sekelumit ucapanmu
Yang, “Kau adalah rembulan pucat di kala dingin
Ingin kupeluk lalu kecup
Setelahnya kusisipkan ungkapan cinta.”

Aku sedang menunggu dalam kepapaan
Dengan ingar bingar sekitar
Dengan pilihan-pilihan tak terpiih
Dengan harap-harap dijejali cemas

Aku ingin menanamkan serangkaian sajak
Menyiraminya dengan diksi-diksi indah
Berharap tumbuh bunga-bunga mewangi
Kukaragkan demi kedatanganmu

Pati, 11 Desember 2016