Judul
: Tentang Kamu
Penulis
: Tere Liye
Penerbit
: Republika
Cetakan
: II, Oktober 2016
Tebal
: vi + 524 hal
ISBN
: 978-602-0822-34-1
Zaman Zulkarnaen, seorang pengacara muda yang baru bekerja
selama dua tahun di firma hukum Thomson & Co. ditugaskan untuk megurusi
warisan seorang wanita 70 tahun. Menilik dari nama kliennya, Zaman akhirnya
paham kenapa dia yang ditugaskan. Tidak lain karena seseorang bernama Sri
Ningsih—yang meninggal di sebuah panti jompo di Paris, pemegang paspor Inggris
serta izin menetap di Perancis—itu berasal dari Indonesia, seperti halnya dia.
Yang mana kliennya ini memiliki kekayaan satu
miliar poundsterling atau setara 19 triliun rupiah. Tapi langkahnya
disulitkan dengan tidak adanya surat wasiat. Hanya ada sebuah diary berisi tulisan sepuluh halaman,
dibagi menjadi lima bagian, masing-masing dua halaman. Setiap bagian hanya ada
satu-dua paragraf pendek, beserta satu-dua foto yang ditempelkan di halaman
bagian itu. Diary itu dia dapat dari
Aimee, pengurus panti jompo yang ditinggali Sri di akhir hidupnya.
Di bab pertama diary
Sri—atau yang dia sebut juz—Zaman dibuat pusing dengan kalimat; Di sini, di mana rumah-rumah yang tumbuh
dari atas permukaan laut, perahu tertambat di tiang-tiang, dan kambing-kambing
mengunyah kertas. (hal 48)
Apakah kambing yang dimaksud di sini kambing sungguhan atau
hanya perumpaan? Petunjuk lainnya adalah
tulisan dalam foto Sri di bab itu. Yaitu Bungin. Ada banyak tempat yang bernama
Bungin di Indonesia. Namun di atas semua itu, dengan bantuan Razak—salah satu
pilot yang mengemudikan jet yang ditumpanginya, Zaman berhasil menemukan daerah
di mana Sri lahir dan tinggal sampai berusia empat belas tahun, yaitu di
Sumbawa. Tapi Zaman masih diharuskan mencari seseorang yang bisa menceritakan
tentang kehidupan kliennya. Di sanalah dia bertemu dengan Ode—teman Sri. Dalam kehidupan
awal ini, Sri yang mendapat sebutan sebagai anak yang dikutuk, belajar tentang kesabaran
yang tiada batasnya, juga tentang pengabdian.
Zaman melanjutkan perjalanan menelusuri jejak kehidupan Sri
karena di tempat tinggal kliennya sewaktu kecil itu, dia tidak menemukan ahli
waris. Di juz kedua diary Sri tertulis; Di
sini, di perkampungan santri dekat pabrik gula, dengan loji, kereta lori,
cerobong raksasa menjadi saksi, betapa keserakahan bisa mengubah orang lain
menjadi lebih dari hewan buas. (hal 141-142)
Di bagian ini, Zaman tidak pusing-pusing lagi mencari tujuan
selanjutnya. Berdasarkan info dari Ode, dia tahu kalau Sri dan adik tirinya
yang bernama Tilamuta pergi ke Surakarta atas bantuan Guru Bajang. Mereka
berada di sebuah pondok besar milik Kiai Ma’sum. Di sana, Zaman bertemu dengan
Nur’aini—putri bungsu Kiai Ma’sum sekaligus sahabat Sri. Di tempat itu, Sri
memahami tentang persahabatan, kejujuran, juga pengkhianatan. Tapi kisah ini
berakhir tragis karena menemukan Tilamuta meninggal dengan tubuh tercincang.
Berbekal surat-surat Sri yang dikirimkan untuk Nur’aini,
Zaman melanjutkan perjalanan ke tempat yang pernah didatangi Sri selanjutnya. Di
juz ketiga dalam diary tertulis; Di sini, di kota harapan ribuan pendatang
berlabuh, tiap hari terminal, stasiun padat oleh penduduk baru. Lampu-lampu
gemerlap, jalan-jalan luas, kawasan hijau semakin habis, orang-orang mengejar
mimpi.(hal 209-210)
Jakarta, ibu kota Indonesia itulah yang dimaskud Sri. Setelah
Zaman mendatangi satu per satu alamat yang tertulis di surat-suratnya dan
hasilnya nihil, akhirnya dia bertemu dengan Chaterine—kepala pabrik yang dulunya
adalah milik Sri. Lewat Chaterine Zaman mengetahui kisah Sri selanjutnya. Yaitu
tentang keteguhan hati. Di sana Sri merasakan yang namanya jatuh bangun saat
merintis usaha. Tapi ketika usahanya sedang berada di atas, tiba-tiba dia
menjual 100% asetnya untuk 1% saham di perusahaan besar kemudian memutuskan
pergi. Zaman penasaran, apa yang mendasari kepergian Sri?
Berbeda dengan juz-juz sebelumnya, di juz keempat ini, Sri
langsung menulis nama tempat; Kota
London, ibu kota Iggris, Eropa, dan dunia. Tempat berbagai suku bangsa, agama,
ras, dan bahasa berkumpu. (hal 286)
Mau tidak mau, Zaman kembali ke London—kota tempatnya
bekerja—untuk melanjutkan penelusurannya. Di London, Zaman bertemu dengan Lucy
yang menceritakan potongan kisah hidup Sri selama di London. Disambung oleh
keluarga Rajendra Khan—yang hampir setiap hari Zaman datang ke kedainya. Pada bagian
ini menceritakan tentang cinta. Tentang seorang lelaki dari Turki bernama Hakan
yang rela melakukan hal di luar nalar demi Sri. Tapi kejadiannya pun sama.
Lagi-lagi Sri memutuskan pergi karena seperti melihat hantu di kehidupannya.
Dan Zaman pun masih belum menemukan ahli waris Sri.
Di sini, di kota dengan Menara
Eiffel yang indah dipandang mata, Sungai Seine mengalir elok. ( hal 475)
Juz terakhir dalam diary
Sri ini menuliskan tentang penerimaan dan memeluk rasa sakit.
Zaman memutuskan kembali ke panti jompo untuk menyelesaikan
penelusurannya.
Seperti kebanyakan novel Tere Liye yang lain, kisah yang
mengambil setting di lima daerah, di tiga
negara—Sumbawa, Surakarta, Jakarta, London, dan Paris—ini memakai alur maju
mundur yang tersusun rapi. Sehingga membuat pembaca penasaran dengan
potongan-potongan kisah Sri. Tapi bagi saya yang sudah banyak membaca
karya-karya beliau, terasa butuh pembaharuan dalam alur. Ingin merasakan alur
yang berbeda dari kebanyakan novel-novel Tere Liye.
Ada beberapa kesalahan tulis yang menurut saya mengganggu.
Bahkan, saya sempat berpikir, apakah nama tokoh utama dalam novel ini selain
dipanggil dengan Sri Ningsih, juga dipanggil dengan nama Sri Rahayu sebagai
penanda dia adalah anak seorang yang bernama Rahayu? Tapi setelah saya pikir
lagi, kemungkinan besar memang typo dalam penulisan nama. Di antaranya;
·
Rasa cinta yang begitu besar itu,
lebih dari cukup untuk membuatnya juga menyayangi Sri Rahayu, meski hanya anak tiri. (hal 84)
·
Hari itu, tahun 1995, usia Sri Rahayu menjelang sembilan tahun, itulah terakhir kali Sri
melihat bapaknya. (hal 96)
·
Tapi Sri Rahayu berhasil menyelamatkan adiknya, Tilamutta. (hal 137)
Saya bertanya-tanya kenapa penampilan Sri—perempuan bertubuh
gempal, hitam dan pendek—setelah keluar dari pondok di Surakarta tidak memakai
jilbab? Bukankah biasanya untuk seorang lulusan pondok yang juga pernah menjadi
guru di sana, kemungkinan besar penampilannya akan berjilbab? Tapi kalau
menilik tahunnya, memang sulit sekali menemukan perempuan berjilbab di tahun
itu. Kalaupun ada, jilbab yang dipakainya pun jauh dari kata menutup aurat.
Kebanyakan hanya kain tipis yang disampirkan.
Ketidaksingkronan usia Sri di BAB 8. Kesabaran Tiada Batas.
Yaitu pada kalimat; Gadis berusia empat belas tahun itu, di detik
terakhir, memutuskan menutupi kesalahan adiknya. (hal 117) dengan, Esok paginya, Ode menjenguk Sri sambil
membawa makanan. Gadis usia lima belas
tahun itu tampak mengenaskan. (hal 124). Dua kejadian itu terjadi pada
malam dan keesokan paginya. Saya berpikir kemungkinan besar kalau sampai dalam
jarak jam saja usianya berbeda, mungkin keesokan harinya adalah hari ulang
tahun Sri. Tapi tidak dijelaskan, jadi saya menyimpulkan itu adalah sebuah
kekeliruan.
Dari segi penampilan buku, saya suka sekali dengan covernya.
Sepasang sepatu yang bisa diartikan sebagai perjalan hidup seseorang dalam
menapaki setiap kisah. Atau juga barang kali sebagai isyarat seseorang yang memcari
tahu jejak hidup orang lain. Cocok sekali dengan isi novel.
Kalau sudah menyebut sebuah buku adalah karangan Tere Liye,
maka mustahil jika tidak berserakan quote
di mana-mana. Bahkan, penulis yang tidak pernah menunjukkan prestasinya dalam
biodata penulis di setiap bukunya ini pun dijulukki sebagai rajanya quote. Quote yang ada di novel ini di
antaranya;
·
Selemah apa pun fisik seseorang,
semiskin apa pun dia, sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa
menyakitinya.(hal 48)
·
Betapa kesarakahan bisa mengubah
orang lain menjadi lebih dari hewan buas. (hal 142)
·
Bukan berapa kali kita gagal,
melainkan berapa kali kita bangkit lagi, lagi, dan lagi setelah gagal tersebut.
(hal 210)
·
Jadilah seperti lilin, yang tidak
pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir
sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru. (hal 278)
·
Cinta memang tidak perlu ditemukan,
cinta-lah yang akan menemukan kita.(hal 286)
·
Aku tidak akan menangis karena
sesuatu itu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah
terjadi. (hal 286)
·
Bagaimana jika semua hal menyesakkan
itu ibarat hujan deras di tengah lapangan, kita harus melewati lapangan menuju
tempat berteduh di sebrang, dan setiap tetes air hujan laksana setiap hal menyakitkan dalam hidup? Bagaimana agar bisa
tiba di tempat tujuan tanpa terkena satu tetes airnya? Yaitu dengan lompatlah
ke tengah hujan, biarkan seluruh tubuh kuyup. Menarilah bersama setiap
tetesnya, tarian penerimaan, jangan dilawan, karena sia-sia saja, kita pasti
basah.
Seperti kebanyakan novel Tere Liye yang lain, dalam buku
bergaya bahasa ringan dan sedikit nyastra ini pun menyisipkan humor. Salah
satunya:
“Jika kita tinggal di tempat yang
sedingin ini, katanya kita bisa putihan loh.” Nur’aini berkata pelan.
“Betulan, Nur?” Sri Tertarik.
“Kulitmu itu sudah gelap, Sri. Mau
diaksih balok es juga begitu. Tidak akan berubah.” Mbak Lastri lebih dulu
menjawab. (hal 170-171)
Sebuah buku yang tidak menggembar-gemborkan bahwa ada kelucuan di dalamnya, tapi ternyata
membuat tertawa, itu sungguh lebih menyenangkan daripada yang
menggembar-gemborkan bahwa buku itu adalah cerita humor, tapi isinya tidak
sesuai dengan yang diharapkan.
Selain itu, buku yang menyiratkan pesan bahwa masa-masa
menyakitkan harus dihadapi ini tentu saja dilengkapi dengan kisah mengharu
biru, menyedihkan, juga membahagiakan. Benar-benar mengaduk-aduk perasaan.
Novel yang mengangkat tema penerimaan atas segala yang
digariskan Tuhan ini juga menyinggung tentang;
·
Krisis
K2Y atau millennium bug. Peralihan
tahun 1999 menjadi tahun 2000. Di mana sistem penanda tahun komputer di seluruh
dunia sudah terlanjur di-setting dengan
dua digit. Maka, tahun 00 (merujuk tahu 2000), akan dianggap sama dengan 1900
oleh komputer. Dunia harus melakukan migrasi sistem besar-besaran, atau jika
tidak, sistem keuangan, penerbangan, pengganjian, persenjataan, dan data-data
penting akan menjadi kacau balau karena komputer keliru mengenali tanggal. (hal
33-34)
·
Kejadian
G30S/PKI 1965. Pemberontakan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia pada 30
September 1965 dengan menghabisi tuan tanah, para kiai, dan militer. (hal
189-191)
·
Kejadian
Malari, malapetaka 15 Januari 1974.
Orang-orang menganggap Jepang terlalu menguasai ekonomi. Sehingga para pendemo
mengincar apa pun yang bermerk Jepang untuk dibakar. (hal 249-251)
·
Transaksi
menggunakan SPV. Yang mana Sri menjual 100% kepemilikan pabrik, dan sebagai
imbalannya, perusahaan raksasa dunia memberikan 1% kepemilikan global absolut
di perusahaan induknya. (hal 275-276)
Dan yang paling menarik saya adalah, asal mula kenapa
dinamakan pedagang kaki lima, yang mana dulu VOC membuat peraturan setiap jalan
harus punya trotoar minimal lima ‘kaki’ agar pejalan tidak senggolan. Karena
bahasa Indonesia terbalik dengan bahasa bule jadilah ‘kaki lima’. (229)
Hal-hal itu tentu saja bisa menambah wawasan pembaca.
Pada akhirnya saya menyimpulkan buku ini cocok dibaca untuk
semua umur.

