Senin, 10 April 2017

(Cerma) Bimbang oleh Elfi Ratna Sari


 Terbit di Harian Analisa edisi Minggu, 9 April 2017

Sebenarnya aku mengiyakan atas permintaanmu kepadaku. Permintaan untuk tinggal satu atap suatu saat nanti. Tapi gila saja. Apa tidak terlalu awal? Kamu tentu sadar sepenuhnya jika kita masih belasan tahun, masih sekolah, masih terlalu jauh untuk menuju ke sana. Jadi rasanya sangat aneh jika kita memikirkannya di detik ini. Karena seharusnya yang kita pikirkan adalah belajar untuk mempersiapkan masa depan. Walau tetap saja diselingi dengan cinta-cintaan ala monyet, eh cinta monyet maksudku.
Aku juga terheran-heran dengan tingkah lakumu belakangan ini. Dari sikap manja, memakai lips gloss—yang lebih mirip habis makan gorengan tidak dilap—ke sekolah, menggerai rambut—padahal biasanya kamu bilang gerah. Dan masih banyak lainnya yang jika kujelaskan semua akan penuh halaman cerpen ini tanpa mengisahkan tentang yang perlu dikisahkan.
Ranting-ranting berdecit, bergoyang diterpa angin saat mentari mulai lengser. Aku santai berjalan mendekatimu yang duduk di kursi taman. Kita masih sama-sama memakai seragam putih abu-abu. Baru pulang dari kegiatan ekstrakulikuler sekolah.
“Kesukaanmu, La. Jus alpukat tanpa susu, tanpa es dan sedikit gula.”
Kamu melirik sedikit.
“Em ... Edoe bisa belikan Lailla soft drink saja? Lailla nggak suka jus.”
Aku tambah menyadari perubahan tingkahmu. Yang biasanya kamu menggunakan kata ganti ‘aku’ dalam setiap perbincangan, kenapa sekarang jadi menyebut nama sendiri? Juga pada selera minummu. Sejak kapan kamu suka soft drink?
“Bukankah kamu sangat suka alpukat, La? Katamu, alpukat banyak manfaat. Seperti mencegah kangker prostat, untuk kesehatan mata, menurunkan kolesterol ....”
“Sssttt ....” Kamu menempelkan ujung telunjuk pada bibirmu sendiri. Mengisyaratkan aku untuk diam. Lantas, kalimatmu berlanjut, “ya sudah, Lailla beli sendiri saja.”
Tanpa permisi dan lain sebagainya, kamu pergi begitu saja. Bersamaan dengan itu, ponselku berbunyi. Maka kuletakkan dua gelas jus di tangan pada bagian kursi yang tadi kamu duduki. Aku merogoh ponsel di saku, lantas duduk.
“Ah, nomor ini lagi,” gerutuku.
‘Sekarang kamu ada di mana, Doe? Aku kangen.’
Bertambah lagi satu kebingunganku hari ini. Kenapa pula isi SMS ini seperti dari orang yang telah lama  mengenalku. Bahkan seperti pacarku. Tapi tidak mungkin pacarku. Kamu kan baru saja pergi, jadi mana mungkin SMS kangen. Walaupun begitu, tetap kujawab, ‘Di taman kota.’
Kusimpan kembali ponsel saat kamu mendekat sambil meneguk minuman. Kugeser dua gelas yang tak kamu suka, supaya manusia yang begitu kucinta dapat kembali duduk.
“Oh ya, La. Bagaimana pengalamanmu di Malaysia? Kenapa pulang lebih cepat? Bukankah harusnya baru hari ini kamu pulang? Kamu sudah bisa logat sana belum? Saye nak beli ayam goyeng, Cikgu! haha.”
Kamu melirik sedikit diriku, terlihat tidak nyaman dengan candaanku. Aku menunduk, mengerti maksudmu. Kamu tentu merasa aku terlalu bawel.
“Tumben kamu menggerai rambutmu, La?”
“Iya, biar lebih cantik. Tapi, gerah nih. Bisakah Edoe kipasin Lailla?”
Kali ini aku semakin yakin kamu benar-benar berbeda dari biasanya. Bukankah biasanya kamu anti merepotkanku? Apakah ketika di Malaysia, kepalamu terbentur menara Petronas, sehingga amnesia pada sikap sendiri?
Walau begitu, tetap kulakukan pintamu.
“Edoe!”
Aku menoleh ke asal suara. Ada sesosok perempuan yang berjalan ke arah kita. Dan ketika hanya berjarak beberapa langkah, dia nampak tercengang. Begitupun aku dan kamu. Aku sendiri bahkan mengucek mata berulang-ulang. Mungkin karena aku tak pakai kaca mata, jadi pacarku terlihat dua.
“Rose?” teriaknya syok.
“La-Lailla?” ucapmu gagap.
“Bisa-bisanya kamu pergi diam-diam dengan pacarku! Maksudmu apa? Apa karena kita kembar, kamu bisa menggantikanku begitu saja?”
“Kembar?” tanyaku ternganga.
“Iya, Doe. Ini Lailli Roselin, dia saudara kembarku yang sejak kecil tinggal dengan Nenek. Dia baru pindah ke sini, karena Nenek sudah meninggal.”
“Jadi yang SMS tadi Lailla asli, sedang ini Rose?” tanyaku memastikan.
“Maafkan Rose, La. Rose telah menyamar jadi Lailla, dan menukar nomor ponsel Lailla, supaya Rose bisa menjadi pacar sementara Edoe saat Lailla di Malaysia. Rose juga mencintai Edoe.”
Perasaanku berkecamuk karena diperebutkan dua wanita serupa, namun beda sikap. Rasanya aku menjadi satu-satunya lelaki paling ganteng di dunia ini.
Rose terisak, kamu memeluknya.
“Sudahlah, Rose. Kalau kamu mau, kamu boleh jadi pacar Edoe seutuhnya. Biar saja aku yang mengalah.”
Aku melotot ke arah Lailla. Tapi beberapa detik kemudian tersenyum karena teringat sesuatu.
“Hei! Nggak usah khawatir. Sebenarnya aku juga punya saudara kembar. Dan dia sedang nggak punya pacar sekarang.”



Elfi Ratna Sari, penulis kumpulan puisi Debur Tasbih Sang Jalang dan novel Seribu Kepak Sayap Patahmu.