Terbit di Harian Analisa edisi Minggu, 9 April 2017
Sebenarnya
aku mengiyakan atas permintaanmu kepadaku. Permintaan untuk tinggal satu atap
suatu saat nanti. Tapi gila saja. Apa tidak terlalu awal? Kamu tentu sadar
sepenuhnya jika kita masih belasan tahun, masih sekolah, masih terlalu jauh
untuk menuju ke sana. Jadi rasanya sangat aneh jika kita memikirkannya di detik
ini. Karena seharusnya yang kita pikirkan adalah belajar untuk mempersiapkan
masa depan. Walau tetap saja diselingi dengan cinta-cintaan ala monyet, eh
cinta monyet maksudku.
Aku juga terheran-heran dengan
tingkah lakumu belakangan ini. Dari sikap manja, memakai lips gloss—yang lebih mirip habis makan gorengan tidak dilap—ke
sekolah, menggerai rambut—padahal biasanya kamu bilang gerah. Dan masih banyak
lainnya yang jika kujelaskan semua akan penuh halaman cerpen ini tanpa
mengisahkan tentang yang perlu dikisahkan.
Ranting-ranting
berdecit, bergoyang diterpa angin saat mentari mulai lengser. Aku santai
berjalan mendekatimu yang duduk di kursi taman. Kita masih sama-sama memakai
seragam putih abu-abu. Baru pulang dari kegiatan ekstrakulikuler sekolah.
“Kesukaanmu,
La. Jus alpukat tanpa susu, tanpa es dan sedikit gula.”
Kamu
melirik sedikit.
“Em ...
Edoe bisa belikan Lailla soft drink
saja? Lailla nggak suka jus.”
Aku tambah
menyadari perubahan tingkahmu. Yang biasanya kamu menggunakan kata ganti ‘aku’
dalam setiap perbincangan, kenapa sekarang jadi menyebut nama sendiri? Juga
pada selera minummu. Sejak kapan kamu suka soft
drink?
“Bukankah
kamu sangat suka alpukat, La? Katamu, alpukat banyak manfaat. Seperti mencegah
kangker prostat, untuk kesehatan mata, menurunkan kolesterol ....”
“Sssttt
....” Kamu menempelkan ujung telunjuk pada bibirmu sendiri. Mengisyaratkan aku
untuk diam. Lantas, kalimatmu berlanjut, “ya sudah, Lailla beli sendiri saja.”
Tanpa
permisi dan lain sebagainya, kamu pergi begitu saja. Bersamaan dengan itu,
ponselku berbunyi. Maka kuletakkan dua gelas jus di tangan pada bagian kursi
yang tadi kamu duduki. Aku merogoh ponsel di saku, lantas duduk.
“Ah, nomor
ini lagi,” gerutuku.
‘Sekarang
kamu ada di mana, Doe? Aku kangen.’
Bertambah
lagi satu kebingunganku hari ini. Kenapa pula isi SMS ini seperti dari orang
yang telah lama mengenalku. Bahkan
seperti pacarku. Tapi tidak mungkin pacarku. Kamu kan baru saja pergi, jadi
mana mungkin SMS kangen. Walaupun begitu, tetap kujawab, ‘Di taman kota.’
Kusimpan
kembali ponsel saat kamu mendekat sambil meneguk minuman. Kugeser dua gelas
yang tak kamu suka, supaya manusia yang begitu kucinta dapat kembali duduk.
“Oh ya,
La. Bagaimana pengalamanmu di Malaysia? Kenapa pulang lebih cepat? Bukankah
harusnya baru hari ini kamu pulang? Kamu sudah bisa logat sana belum? Saye nak beli ayam goyeng, Cikgu! haha.”
Kamu
melirik sedikit diriku, terlihat tidak nyaman dengan candaanku. Aku menunduk,
mengerti maksudmu. Kamu tentu merasa aku terlalu bawel.
“Tumben
kamu menggerai rambutmu, La?”
“Iya, biar
lebih cantik. Tapi, gerah nih. Bisakah Edoe kipasin Lailla?”
Kali ini
aku semakin yakin kamu benar-benar berbeda dari biasanya. Bukankah biasanya
kamu anti merepotkanku? Apakah ketika di Malaysia, kepalamu terbentur menara
Petronas, sehingga amnesia pada sikap sendiri?
Walau
begitu, tetap kulakukan pintamu.
“Edoe!”
Aku
menoleh ke asal suara. Ada sesosok perempuan yang berjalan ke arah kita. Dan
ketika hanya berjarak beberapa langkah, dia nampak tercengang. Begitupun aku
dan kamu. Aku sendiri bahkan mengucek mata berulang-ulang. Mungkin karena aku
tak pakai kaca mata, jadi pacarku terlihat dua.
“Rose?”
teriaknya syok.
“La-Lailla?”
ucapmu gagap.
“Bisa-bisanya
kamu pergi diam-diam dengan pacarku! Maksudmu apa? Apa karena kita kembar, kamu
bisa menggantikanku begitu saja?”
“Kembar?”
tanyaku ternganga.
“Iya, Doe.
Ini Lailli Roselin, dia saudara kembarku yang sejak kecil tinggal dengan Nenek.
Dia baru pindah ke sini, karena Nenek sudah meninggal.”
“Jadi yang
SMS tadi Lailla asli, sedang ini Rose?” tanyaku memastikan.
“Maafkan
Rose, La. Rose telah menyamar jadi Lailla, dan menukar nomor ponsel Lailla,
supaya Rose bisa menjadi pacar sementara Edoe saat Lailla di Malaysia. Rose
juga mencintai Edoe.”
Perasaanku
berkecamuk karena diperebutkan dua wanita serupa, namun beda sikap. Rasanya aku
menjadi satu-satunya lelaki paling ganteng di dunia ini.
Rose
terisak, kamu memeluknya.
“Sudahlah,
Rose. Kalau kamu mau, kamu boleh jadi pacar Edoe seutuhnya. Biar saja aku yang
mengalah.”
Aku
melotot ke arah Lailla. Tapi beberapa detik kemudian tersenyum karena teringat
sesuatu.
“Hei! Nggak usah khawatir. Sebenarnya aku juga
punya saudara kembar. Dan dia sedang nggak
punya pacar sekarang.”
Elfi Ratna Sari, penulis kumpulan puisi Debur Tasbih Sang Jalang dan novel Seribu Kepak Sayap Patahmu.
