Jumat, 17 Maret 2017

(Dongeng) Dawet Persahabatan oleh Elfi Ratna Sari


Terbit di Harian Kompas Minggu, 12 Maret 2017
  

Nadia baru saja sampai di rumah kakeknya di Desa Kemiri, Kota Pati, Jawa Tengah. Di kota yang terkenal dengan julukan Pati Bumi Mina Tani itu masih sangat asri, Nadia pun merasa betah.

Perjalanan liburan Nadia kali ini ke rumah kakek, tidak lain sebagai hadiah karena dia menjadi juara kelas. Nadia memang sangat pintar. Tapi, tidak serta-merta membuatnya sombong. Dia mau berteman dengan siapa saja. Seperti halnya pagi ini. Ketika sedang bersantai sendirian di muka rumah kakeknya, Nadia bertemu dengan anak perempuan seumurannya, yang sedang asyik menulis-nulis sesuatu di tanah dengan menggunakan pecahan genting.

“Kamu sedang main apa? Aku boleh ikut?” tanya Nadia.
Gadis kecil berkepang dua itu malah melotot. “Tidak boleh!”
‘Anak-anak dari kota besar kebanyakan kalau datang ke sini pasti hanya untuk menyombongkan diri,’ gerutunya.
Nadia hanya mengangkat bahu. Tidak mau memaksa.
Tak lama, Nadia melihat seorang bapak tua sedang memikul dagangan melewati rumah kakeknya.
“Dawet … dawet …,” ucap bapak itu.
Nadia pun memanggil bapak tua penjual dawet.
“Aku mau satu gelas, Kek. Ini uangnya.” Dahulu, Nadia pernah dibelikan kakek dawet, rasanya enak sekali. Jadi dia mau meminumnya lagi.
Dengan segera, kakek itu membuatkan segelas dawet untuk Nadia.
Sambil menikmati dawet, Nadia mengajak kakek penjual dawet mengobrol.
“Dawet itu terbuat dari apa ya, Kek, kok bisa seenak ini?”
“Dari pati ketela, Nduk. Karena cerita dawet yang cendolnya terbuat dari tepung pati-lah nama kota ini dinamakan Pati.”
“Oh ya?”
Nadia menyendoki cendol di dawet sambil duduk di kursi plastik yang disediakan kakek itu. Tapi tiba-tiba dia melihat gadis berkepang dua tadi sedang memerhatikannya. Tanpa menunggu lama, dia membisiki kakek penjual dawet. Si kakek mengangguk. Segera, menyerahkan segelas dawet lagi kepada Nadia. Kemudian, Nadia mendekati si gadis kecil dan menyerahkan segelas dawet kepadanya.
“Ini untukmu. Terimalah!” kata Nadia.
Gadis kecil itu merasa kaget. Dengan ragu-ragu, dia menerima segelas dawet. Namun, selanjutnya dia tersenyum.
“Aku hanya mau berteman denganmu. Namaku Nadia!” ujar Nadia sambil menjulurkan tangannya. Gadis kecil itu pun menyambut uluran tangan Nadia.
“Ida,” jawab si gadis kecil.
Gadis kecil bernama Ida itu kemudian berkata lagi, “Meskipun kamu anak dari kota, ternyata kamu tidak sombong. Kamu baik dan juga rendah hati.”
Nadia hanya tersenyum. “Iya, berbuat sombong itu tidak ada gunanya. Kalau kita sombong, pasti akan dijauhi orang. Yuk, Ida! Kita minum dawetnya sambil mendengarkan cerita kakek itu tentang Kota Pati.”
Ida pun mengangguk.
Setelah peristiwa itu, Nadia dan Ida mulai berteman akrab. Mereka menjadi sepasang sahabat yang baik.

Pati, 22 Februari 2017