Terbit di Harian Kompas Minggu, 12 Maret 2017
Nadia
baru saja sampai di rumah kakeknya di Desa Kemiri, Kota Pati, Jawa Tengah. Di
kota yang terkenal dengan julukan Pati Bumi Mina Tani itu masih sangat asri, Nadia
pun merasa betah.
Perjalanan
liburan Nadia kali ini ke rumah kakek, tidak lain sebagai hadiah karena dia
menjadi juara kelas. Nadia memang sangat pintar. Tapi, tidak serta-merta
membuatnya sombong. Dia mau berteman dengan siapa saja. Seperti halnya pagi
ini. Ketika sedang bersantai sendirian di muka rumah kakeknya, Nadia bertemu
dengan anak perempuan seumurannya, yang sedang asyik menulis-nulis sesuatu di
tanah dengan menggunakan pecahan genting.
“Kamu
sedang main apa? Aku boleh ikut?” tanya Nadia.
Gadis
kecil berkepang dua itu malah melotot. “Tidak boleh!”
‘Anak-anak
dari kota besar kebanyakan kalau datang ke sini pasti hanya untuk menyombongkan
diri,’ gerutunya.
Nadia
hanya mengangkat bahu. Tidak mau memaksa.
Tak
lama, Nadia melihat seorang bapak tua sedang memikul dagangan melewati rumah kakeknya.
“Dawet
… dawet …,” ucap bapak itu.
Nadia
pun memanggil bapak tua penjual dawet.
“Aku
mau satu gelas, Kek. Ini uangnya.” Dahulu, Nadia pernah dibelikan kakek dawet,
rasanya enak sekali. Jadi dia mau meminumnya lagi.
Dengan
segera, kakek itu membuatkan segelas dawet untuk Nadia.
Sambil
menikmati dawet, Nadia mengajak kakek penjual dawet mengobrol.
“Dawet
itu terbuat dari apa ya, Kek, kok bisa seenak ini?”
“Dari
pati ketela, Nduk. Karena cerita
dawet yang cendolnya terbuat dari tepung pati-lah nama kota ini dinamakan
Pati.”
“Oh
ya?”
Nadia
menyendoki cendol di dawet sambil duduk di kursi plastik yang disediakan kakek
itu. Tapi tiba-tiba dia melihat gadis berkepang dua tadi sedang memerhatikannya.
Tanpa menunggu lama, dia membisiki kakek penjual dawet. Si kakek mengangguk. Segera,
menyerahkan segelas dawet lagi kepada Nadia. Kemudian, Nadia mendekati si gadis
kecil dan menyerahkan segelas dawet kepadanya.
“Ini
untukmu. Terimalah!” kata Nadia.
Gadis
kecil itu merasa kaget. Dengan ragu-ragu, dia menerima segelas dawet. Namun,
selanjutnya dia tersenyum.
“Aku
hanya mau berteman denganmu. Namaku Nadia!” ujar Nadia sambil menjulurkan
tangannya. Gadis kecil itu pun menyambut uluran tangan Nadia.
“Ida,”
jawab si gadis kecil.
Gadis
kecil bernama Ida itu kemudian berkata lagi, “Meskipun kamu anak dari kota,
ternyata kamu tidak sombong. Kamu baik dan juga rendah hati.”
Nadia
hanya tersenyum. “Iya, berbuat sombong itu tidak ada gunanya. Kalau kita
sombong, pasti akan dijauhi orang. Yuk, Ida! Kita minum dawetnya sambil
mendengarkan cerita kakek itu tentang Kota Pati.”
Ida
pun mengangguk.
Setelah
peristiwa itu, Nadia dan Ida mulai berteman akrab. Mereka menjadi sepasang
sahabat yang baik.
Pati,
22 Februari 2017
