Jumat, 27 Januari 2017

(Cerma) Rasi dan Sekuntum Janji oleh Elfi Ratna Sari

Terbit di Harian Haluan (Halaman Sulam Emas) Edisi Minggu, 29 Januari 2017 (Terbit Jumat, 27 Januari 2017)





Dari lantai dua dia memandang jauh ke sebrang. Menyaksikan detail taman bunga, ternak-ternak di pedesaan, atau anak-anak kecil yang belarian saling mengejar. Oh sungguh mereka menikmati masa kecil yang menyenangkan.
Tangan putih khas gadis pegunungan anak orang berada itu menggengam bunga, warnanya putih, namun sudah sedikit kecoklatan karena waktu. Entahlah, mungkin lebih dari sewindu dia menggenggamnya. Tak jarang wajah cemas terpancar, diiringi senyum-senyum kecil seolah mengingat sesuatu. Benar-benar hanya bermain dengan pikirannya sendiri.
Diciumnya untuk kesekian kali bunga itu. Mungkin sudah hambar, dan lagi-lagi penyebabnya adalah waktu. Kemudian dia santai menyandarkan diri di tiang-tiang penyangga balkon kamar. Tersenyum sedikit, lantas memandang lagi ke arah nun jauh di sana. Maka tak lama, guratan wajah cemasnya muncul. Seolah ketakutan, sesuatu yang membuatnya tersenyum tidak akan terulang lagi.
Di depan pintu kamar, sang Kakak yang menyaksikan kondisi adiknya merasa sedih. Sungguh dia khawatir adiknya akan gila jika setiap hari hanya begitu yang dilakukan. Maka dia melangkah, mendekat, menyentuh dengan lembut punggung adiknya. Yang disentuh tidak lama langsung menoleh.
Dengan wajah riang, Rasi bertanya kepada kakaknya, Bulan, “Kenapa Kakak sedih?”
“Aku khawatir padamu, Rasi. Seharusnya kamu berhenti mengharapkannya datang.” Wajah Bulan tertunduk, air matanya mengalir.
“Kakakku Sayang, tenanglah! Dia pasti akan datang. Aku yakin itu. Dulu dia bilang, dia akan datang jika seluruh mahkota bunga ini lepas. Sebentar lagi dia akan datang, Kak.”
Mendengar kalimat adiknya, Bulan semakin bersedih. Dia malah tersedan lama, meratapi nasib adiknya yang terbelit cinta buta.
“Lupakan dia, Rasi! Kumohon lupakanlah! Dia nggak akan kembali!”
“Tapi ... tapi dulu dia janji, Kak. Dia akan datang, dia akan kembali.”
Menyaksikan kakaknya menangis, Rasi ikut menangis. Dia jatuh terduduk, belum mengerti mengapa Bulan kejam sekali menyuruhnya berhenti berharap. Bukankah selama ini sebuah janji amatlah sakral? Kenapa? Kenapa kakaknya melarang dia untuk terus menggenggam janji itu?
“Itu hanya janji anak usia labil, Rasi! Dan kenyataannya dia melupakanmu.”
“Tapi ... tapi bunga ini kelopaknya belum gugur satu pun, Kak. Dia akan kembali jika kelopak ini sudah gugur semua.”
“Dia nggak akan kembali! Karena kelopak itu nggak akan pernah gugur, meski sudah puluhan tahun bunga itu dipetik dari pohonnya. Itu bunga Edelweiss, Sayang. Bunga abadi. Bunga yang nggak akan layu dan gugur. Yang berarti dia nggak akan pernah datang.”
Bulan ikut jatuh terduduk di depan adiknya. Rasi menatap mata kakaknya dalam-dalam, seolah bertanya, ‘Apakah itu benar?’
Agaknya rasa cinta yang teramat besar membuat otak cerdasnya tidak berfungsi.
Rasi lemas memeluk kakaknya, menyadari dia telah dibohongi dengan janji penantian yang tiada pernah berujung, janji yang seharusnya telah dia lupakan, janji yang seharusnya tak pernah dia genggam sekuat itu, janji yang membuatnya diam di tempat bertahun-tahun.
“Kak, bukankah aku seorang yang sangat mengagungkan janji. Belum pernah sekalipun ingkar. Termasuk janjiku padanya untuk menunggu. Janji hanya akan bernyanyi di depan dia saja. Lalu kenapa dia ingkar, Kak? Kenapa?”
Rasi lebih tersungkur mengetahui kenyataan menyakitkan itu.
“Sabar, Rasi. Andai semua orang sepertimu. Andai dia juga sepertimu yang menggenggam janji. Namun sayangnya dia nggak seperti kamu. Orang-orang umumnya memakai Edelweiss sebagai lambang cinta abadi. Tapi enggak dengan dia. Dia memakainya sebagai lambang penantian abadi. Kamu ... kamu nggak seharusnya merasakan semua ini. Dan jika kamu mau membuka mata dengan kenyataan, membuka telinga untuk mendengar kabar, sungguh, Rasi ... dia nggak lebih hanya seorang pemain cinta. Menyebarkan Edelweiss ke seluruh wanita. Lalu dia pergi mencari wanita lain. Apakah kamu akan tetap menyimpan cinta buta itu untuknya? Enggak, Rasi! Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik. Dan itu jelas bukan dia. Lihatlah, Rasi! Sadarlah! Kamu adalah bintang kelas yang sangat disenangi orang. Kamu berbakat. Kamu ....”
Kalimatnya menggantung, Bulan terisak bersama derai air mata adiknya yang tak berhenti mengalir sejak tadi.
“Aku ....” Tenggorokan Rasi terasa tercekat. Dia urung melanjutkan kalimatnya.
“Kamu sangat menakjubkan. Buanglah bunga itu! Dan jadilah Rasi kami yang dulu. Kamu berhak bahagia.”
Lantas setelah sekian lama Rasi hanya diam menyimpan suara emasnya, untuk pertama kali dia kembali lagi bersenandung. Namun bukan lagu ceria, bukan lagu-lagu semangat yang dia lantunkan. Melainkan lagu menggores hati, yang apabila seekor nyamuk tak sengaja mendengar, dia akan ikut menundukkan kepala, menghayati syair-syair seorang yang kecewa.
‘Mengapa janji-janji tercipta
Kalau hanya diingkari
Mengapa penantian dimintanya
Jika dia memilih lupa.’

Elfi Ratna Sari, penulis kumpulan puisi Debur Tasbih Sang Jalang dan novel Seribu Kepak Sayap Patahmu.

Jumat, 20 Januari 2017

(Puisi) Sekatup Harap oleh Elfi Ratna Sari

Dimuat di Harian Haluan (Halaman Sulam Emas) edisi 22 Januari 2017





Sekatup Harap

Harapanku menyala-nyala
Menghayal buah yang kelak tertuai
Mengejorakan bimbang-bimbang di gelantungan suram
Mengubah jadi guratan yakin

Pada yang sedemikian rupa
Kugodakan sukses pada diri
Biar semangat jelma-menjelma

Ah, aku diselubungi rencana
Bila susah jalan,
Biar kucarikan celah tersempit
Tuk sempilkan mimpi