Dari
lantai dua dia memandang jauh ke sebrang. Menyaksikan detail taman bunga,
ternak-ternak di pedesaan, atau anak-anak kecil yang belarian saling mengejar.
Oh sungguh mereka menikmati masa kecil yang menyenangkan.
Tangan
putih khas gadis pegunungan anak orang berada itu menggengam bunga, warnanya
putih, namun sudah sedikit kecoklatan karena waktu. Entahlah, mungkin lebih
dari sewindu dia menggenggamnya. Tak jarang wajah cemas terpancar, diiringi
senyum-senyum kecil seolah mengingat sesuatu. Benar-benar hanya bermain dengan
pikirannya sendiri.
Diciumnya
untuk kesekian kali bunga itu. Mungkin sudah hambar, dan lagi-lagi penyebabnya
adalah waktu. Kemudian dia santai menyandarkan diri di tiang-tiang penyangga
balkon kamar. Tersenyum sedikit, lantas memandang lagi ke arah nun jauh di
sana. Maka tak lama, guratan wajah cemasnya muncul. Seolah ketakutan, sesuatu
yang membuatnya tersenyum tidak akan terulang lagi.
Di
depan pintu kamar, sang Kakak yang menyaksikan kondisi adiknya merasa sedih.
Sungguh dia khawatir adiknya akan gila jika setiap hari hanya begitu yang
dilakukan. Maka dia melangkah, mendekat, menyentuh dengan lembut punggung
adiknya. Yang disentuh tidak lama langsung menoleh.
Dengan
wajah riang, Rasi bertanya kepada kakaknya, Bulan, “Kenapa Kakak sedih?”
“Aku
khawatir padamu, Rasi. Seharusnya kamu berhenti mengharapkannya datang.” Wajah Bulan
tertunduk, air matanya mengalir.
“Kakakku
Sayang, tenanglah! Dia pasti akan datang. Aku yakin itu. Dulu dia bilang, dia
akan datang jika seluruh mahkota bunga ini lepas. Sebentar lagi dia akan
datang, Kak.”
Mendengar
kalimat adiknya, Bulan semakin bersedih. Dia malah tersedan lama, meratapi
nasib adiknya yang terbelit cinta buta.
“Lupakan
dia, Rasi! Kumohon lupakanlah! Dia nggak akan kembali!”
“Tapi
... tapi dulu dia janji, Kak. Dia akan datang, dia akan kembali.”
Menyaksikan
kakaknya menangis, Rasi ikut menangis. Dia jatuh terduduk, belum mengerti
mengapa Bulan kejam sekali menyuruhnya berhenti berharap. Bukankah selama ini sebuah
janji amatlah sakral? Kenapa? Kenapa kakaknya melarang dia untuk terus
menggenggam janji itu?
“Itu
hanya janji anak usia labil, Rasi! Dan kenyataannya dia melupakanmu.”
“Tapi
... tapi bunga ini kelopaknya belum gugur satu pun, Kak. Dia akan kembali jika
kelopak ini sudah gugur semua.”
“Dia
nggak akan kembali! Karena kelopak itu nggak akan pernah gugur, meski sudah
puluhan tahun bunga itu dipetik dari pohonnya. Itu bunga Edelweiss, Sayang. Bunga
abadi. Bunga yang nggak akan layu dan gugur. Yang berarti dia nggak akan pernah
datang.”
Bulan
ikut jatuh terduduk di depan adiknya. Rasi menatap mata kakaknya dalam-dalam,
seolah bertanya, ‘Apakah itu benar?’
Agaknya
rasa cinta yang teramat besar membuat otak cerdasnya tidak berfungsi.
Rasi
lemas memeluk kakaknya, menyadari dia telah dibohongi dengan janji penantian
yang tiada pernah berujung, janji yang seharusnya telah dia lupakan, janji yang
seharusnya tak pernah dia genggam sekuat itu, janji yang membuatnya diam di
tempat bertahun-tahun.
“Kak,
bukankah aku seorang yang sangat mengagungkan janji. Belum pernah sekalipun
ingkar. Termasuk janjiku padanya untuk menunggu. Janji hanya akan bernyanyi di
depan dia saja. Lalu kenapa dia ingkar, Kak? Kenapa?”
Rasi
lebih tersungkur mengetahui kenyataan menyakitkan itu.
“Sabar,
Rasi. Andai semua orang sepertimu. Andai dia juga sepertimu yang menggenggam
janji. Namun sayangnya dia nggak seperti kamu. Orang-orang umumnya memakai
Edelweiss sebagai lambang cinta abadi. Tapi enggak dengan dia. Dia memakainya
sebagai lambang penantian abadi. Kamu ... kamu nggak seharusnya merasakan semua
ini. Dan jika kamu mau membuka mata dengan kenyataan, membuka telinga untuk mendengar
kabar, sungguh, Rasi ... dia nggak lebih hanya seorang pemain cinta.
Menyebarkan Edelweiss ke seluruh wanita. Lalu dia pergi mencari wanita lain. Apakah
kamu akan tetap menyimpan cinta buta itu untuknya? Enggak, Rasi! Kamu pantas
mendapatkan yang lebih baik. Dan itu jelas bukan dia. Lihatlah, Rasi! Sadarlah!
Kamu adalah bintang kelas yang sangat disenangi orang. Kamu berbakat. Kamu
....”
Kalimatnya
menggantung, Bulan terisak bersama derai air mata adiknya yang tak berhenti
mengalir sejak tadi.
“Aku
....” Tenggorokan Rasi terasa tercekat. Dia urung melanjutkan kalimatnya.
“Kamu
sangat menakjubkan. Buanglah bunga itu! Dan jadilah Rasi kami yang dulu. Kamu
berhak bahagia.”
Lantas
setelah sekian lama Rasi hanya diam menyimpan suara emasnya, untuk pertama kali
dia kembali lagi bersenandung. Namun bukan lagu ceria, bukan lagu-lagu semangat
yang dia lantunkan. Melainkan lagu menggores hati, yang apabila seekor nyamuk
tak sengaja mendengar, dia akan ikut menundukkan kepala, menghayati syair-syair
seorang yang kecewa.
‘Mengapa
janji-janji tercipta
Kalau
hanya diingkari
Mengapa
penantian dimintanya
Jika
dia memilih lupa.’
Elfi Ratna Sari, penulis kumpulan
puisi Debur Tasbih Sang Jalang dan
novel Seribu Kepak Sayap Patahmu.

