Rabu, 03 Mei 2017

(Dongeng) Martin dan Dimas oleh Elfi Ratna Sari

Dimuat di Koran Kompas edisi Minggu, 30 April 2017
Tema: April Menghargai
 



Jika kamu tahu Martin, dialah anak paling tinggi dan besar di antara anak-anak kelas lima. Saking tingginya, sampai-sampai celana merahnya sudah cingkrang hampir sejengkal di atas lutut. Orangnya ramah dan suka membantu yang lain. Dia baru pindah dari Sorong, Papua beberapa bulan lalu. Sekarang dia tinggal di Desa Cimahi, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Dia mudah akrab pada teman-teman barunya di sekolah. Bahkan tidak sungkan untuk berbagi cerita. Walau saat bercerita logatnya terdengar lucu di telinga kami.
Sa punya Papa he, dipindah kerjakan di sini.”
Awalnya yang lain sulit mengerti, ada juga beberapa yang tertawa, tapi lama-lama kami terbiasa. Walaupun sering ditertawakan, Martin sedikit pun tidak tersinggung, malah dia ikut tertawa. Merasa gembira bisa membuat teman-temannya senang.
Lain halnya sikap Dimas, dia selalu iseng mengajak Martin bicara menggunakan bahasa Sunda.
“Martin, parantos emam?
“Hai, Dimas. Ko su makan?”
Kedua anak itu justru saling menanyakan apakah masing-masing mereka sudah makan atau belum.
Begitulah ulah Dimas sejak Martin bersekolah di sini. Martin sendiri merasa tidak keberatan dengan itu. Bagi Martin, Dimas justru sedang mengajarkannya berbahasa Sunda.
Hingga suatu ketika, saat Dimas pulang sekolah mengendarai sepedanya dengan mengebut, tanpa disangka, ternyata rem sepedanya rusak. Sehingga laju sepedanya tidak bisa berhenti. Dimas berteriak panik. Sayangnya, jalanan sedang sepi, karena waktu menunjukkan jam dua belas siang. Saatnya orang-orang yang bekerja di ladang, pulang untuk makan dan shalat bagi yang menjalankan.
Pada akhirnya sepeda Dimas masuk ke selokan dan patah jadi dua, sedangkan dia jatuh, kakinya terasa sakit sekali. Dia terus meminta tolong. Kebetulan ada Martin yang lewat. Martin melihatnya, kemudian segera mendekat untuk menolong. Tanpa banyak bicara, karena hafal Dimas akan berbicara bahasa Sunda padanya—yang dia tidak bisa mengerti—Martin langsung menggendong Dimas sampai rumah. Tubuhnya yang tinggi besar tidak merasa susah saat menggendongnya.
Di gendongan Martin, Dimas menangis. Antara menahan sakit, juga menahan malu atas sikapnya selama ini. Dimas menyesal.
“Martin, maafkan aku yang selama ini tidak menghargai kamu. Aku tahu kita berbeda suku, berbeda bahasa dan logat, tapi aku bukannya memakai bahasa persatuan kita—bahasa Indonesia—malah senang sekali mengejekmu dengan menggunakan bahasa Sunda yang kamu belum mengerti.”
“Eh, apa benar ko kata, Dimas? Sa kira ko selama ini, ajari sa bahasa Sunda. Tapi tak apa. Ayeuna urang geus bisa bahasa Sunda, saeutik-saeutik.
Mereka pun tertawa sepanjang jalan pulang. Sambil berjanji akan mengajari bahasa daerah masing-masing.

Pati, 22 Maret 2017


Senin, 10 April 2017

(Cerma) Bimbang oleh Elfi Ratna Sari


 Terbit di Harian Analisa edisi Minggu, 9 April 2017

Sebenarnya aku mengiyakan atas permintaanmu kepadaku. Permintaan untuk tinggal satu atap suatu saat nanti. Tapi gila saja. Apa tidak terlalu awal? Kamu tentu sadar sepenuhnya jika kita masih belasan tahun, masih sekolah, masih terlalu jauh untuk menuju ke sana. Jadi rasanya sangat aneh jika kita memikirkannya di detik ini. Karena seharusnya yang kita pikirkan adalah belajar untuk mempersiapkan masa depan. Walau tetap saja diselingi dengan cinta-cintaan ala monyet, eh cinta monyet maksudku.
Aku juga terheran-heran dengan tingkah lakumu belakangan ini. Dari sikap manja, memakai lips gloss—yang lebih mirip habis makan gorengan tidak dilap—ke sekolah, menggerai rambut—padahal biasanya kamu bilang gerah. Dan masih banyak lainnya yang jika kujelaskan semua akan penuh halaman cerpen ini tanpa mengisahkan tentang yang perlu dikisahkan.
Ranting-ranting berdecit, bergoyang diterpa angin saat mentari mulai lengser. Aku santai berjalan mendekatimu yang duduk di kursi taman. Kita masih sama-sama memakai seragam putih abu-abu. Baru pulang dari kegiatan ekstrakulikuler sekolah.
“Kesukaanmu, La. Jus alpukat tanpa susu, tanpa es dan sedikit gula.”
Kamu melirik sedikit.
“Em ... Edoe bisa belikan Lailla soft drink saja? Lailla nggak suka jus.”
Aku tambah menyadari perubahan tingkahmu. Yang biasanya kamu menggunakan kata ganti ‘aku’ dalam setiap perbincangan, kenapa sekarang jadi menyebut nama sendiri? Juga pada selera minummu. Sejak kapan kamu suka soft drink?
“Bukankah kamu sangat suka alpukat, La? Katamu, alpukat banyak manfaat. Seperti mencegah kangker prostat, untuk kesehatan mata, menurunkan kolesterol ....”
“Sssttt ....” Kamu menempelkan ujung telunjuk pada bibirmu sendiri. Mengisyaratkan aku untuk diam. Lantas, kalimatmu berlanjut, “ya sudah, Lailla beli sendiri saja.”
Tanpa permisi dan lain sebagainya, kamu pergi begitu saja. Bersamaan dengan itu, ponselku berbunyi. Maka kuletakkan dua gelas jus di tangan pada bagian kursi yang tadi kamu duduki. Aku merogoh ponsel di saku, lantas duduk.
“Ah, nomor ini lagi,” gerutuku.
‘Sekarang kamu ada di mana, Doe? Aku kangen.’
Bertambah lagi satu kebingunganku hari ini. Kenapa pula isi SMS ini seperti dari orang yang telah lama  mengenalku. Bahkan seperti pacarku. Tapi tidak mungkin pacarku. Kamu kan baru saja pergi, jadi mana mungkin SMS kangen. Walaupun begitu, tetap kujawab, ‘Di taman kota.’
Kusimpan kembali ponsel saat kamu mendekat sambil meneguk minuman. Kugeser dua gelas yang tak kamu suka, supaya manusia yang begitu kucinta dapat kembali duduk.
“Oh ya, La. Bagaimana pengalamanmu di Malaysia? Kenapa pulang lebih cepat? Bukankah harusnya baru hari ini kamu pulang? Kamu sudah bisa logat sana belum? Saye nak beli ayam goyeng, Cikgu! haha.”
Kamu melirik sedikit diriku, terlihat tidak nyaman dengan candaanku. Aku menunduk, mengerti maksudmu. Kamu tentu merasa aku terlalu bawel.
“Tumben kamu menggerai rambutmu, La?”
“Iya, biar lebih cantik. Tapi, gerah nih. Bisakah Edoe kipasin Lailla?”
Kali ini aku semakin yakin kamu benar-benar berbeda dari biasanya. Bukankah biasanya kamu anti merepotkanku? Apakah ketika di Malaysia, kepalamu terbentur menara Petronas, sehingga amnesia pada sikap sendiri?
Walau begitu, tetap kulakukan pintamu.
“Edoe!”
Aku menoleh ke asal suara. Ada sesosok perempuan yang berjalan ke arah kita. Dan ketika hanya berjarak beberapa langkah, dia nampak tercengang. Begitupun aku dan kamu. Aku sendiri bahkan mengucek mata berulang-ulang. Mungkin karena aku tak pakai kaca mata, jadi pacarku terlihat dua.
“Rose?” teriaknya syok.
“La-Lailla?” ucapmu gagap.
“Bisa-bisanya kamu pergi diam-diam dengan pacarku! Maksudmu apa? Apa karena kita kembar, kamu bisa menggantikanku begitu saja?”
“Kembar?” tanyaku ternganga.
“Iya, Doe. Ini Lailli Roselin, dia saudara kembarku yang sejak kecil tinggal dengan Nenek. Dia baru pindah ke sini, karena Nenek sudah meninggal.”
“Jadi yang SMS tadi Lailla asli, sedang ini Rose?” tanyaku memastikan.
“Maafkan Rose, La. Rose telah menyamar jadi Lailla, dan menukar nomor ponsel Lailla, supaya Rose bisa menjadi pacar sementara Edoe saat Lailla di Malaysia. Rose juga mencintai Edoe.”
Perasaanku berkecamuk karena diperebutkan dua wanita serupa, namun beda sikap. Rasanya aku menjadi satu-satunya lelaki paling ganteng di dunia ini.
Rose terisak, kamu memeluknya.
“Sudahlah, Rose. Kalau kamu mau, kamu boleh jadi pacar Edoe seutuhnya. Biar saja aku yang mengalah.”
Aku melotot ke arah Lailla. Tapi beberapa detik kemudian tersenyum karena teringat sesuatu.
“Hei! Nggak usah khawatir. Sebenarnya aku juga punya saudara kembar. Dan dia sedang nggak punya pacar sekarang.”



Elfi Ratna Sari, penulis kumpulan puisi Debur Tasbih Sang Jalang dan novel Seribu Kepak Sayap Patahmu.

Jumat, 17 Maret 2017

(Dongeng) Dawet Persahabatan oleh Elfi Ratna Sari


Terbit di Harian Kompas Minggu, 12 Maret 2017
  

Nadia baru saja sampai di rumah kakeknya di Desa Kemiri, Kota Pati, Jawa Tengah. Di kota yang terkenal dengan julukan Pati Bumi Mina Tani itu masih sangat asri, Nadia pun merasa betah.

Perjalanan liburan Nadia kali ini ke rumah kakek, tidak lain sebagai hadiah karena dia menjadi juara kelas. Nadia memang sangat pintar. Tapi, tidak serta-merta membuatnya sombong. Dia mau berteman dengan siapa saja. Seperti halnya pagi ini. Ketika sedang bersantai sendirian di muka rumah kakeknya, Nadia bertemu dengan anak perempuan seumurannya, yang sedang asyik menulis-nulis sesuatu di tanah dengan menggunakan pecahan genting.

“Kamu sedang main apa? Aku boleh ikut?” tanya Nadia.
Gadis kecil berkepang dua itu malah melotot. “Tidak boleh!”
‘Anak-anak dari kota besar kebanyakan kalau datang ke sini pasti hanya untuk menyombongkan diri,’ gerutunya.
Nadia hanya mengangkat bahu. Tidak mau memaksa.
Tak lama, Nadia melihat seorang bapak tua sedang memikul dagangan melewati rumah kakeknya.
“Dawet … dawet …,” ucap bapak itu.
Nadia pun memanggil bapak tua penjual dawet.
“Aku mau satu gelas, Kek. Ini uangnya.” Dahulu, Nadia pernah dibelikan kakek dawet, rasanya enak sekali. Jadi dia mau meminumnya lagi.
Dengan segera, kakek itu membuatkan segelas dawet untuk Nadia.
Sambil menikmati dawet, Nadia mengajak kakek penjual dawet mengobrol.
“Dawet itu terbuat dari apa ya, Kek, kok bisa seenak ini?”
“Dari pati ketela, Nduk. Karena cerita dawet yang cendolnya terbuat dari tepung pati-lah nama kota ini dinamakan Pati.”
“Oh ya?”
Nadia menyendoki cendol di dawet sambil duduk di kursi plastik yang disediakan kakek itu. Tapi tiba-tiba dia melihat gadis berkepang dua tadi sedang memerhatikannya. Tanpa menunggu lama, dia membisiki kakek penjual dawet. Si kakek mengangguk. Segera, menyerahkan segelas dawet lagi kepada Nadia. Kemudian, Nadia mendekati si gadis kecil dan menyerahkan segelas dawet kepadanya.
“Ini untukmu. Terimalah!” kata Nadia.
Gadis kecil itu merasa kaget. Dengan ragu-ragu, dia menerima segelas dawet. Namun, selanjutnya dia tersenyum.
“Aku hanya mau berteman denganmu. Namaku Nadia!” ujar Nadia sambil menjulurkan tangannya. Gadis kecil itu pun menyambut uluran tangan Nadia.
“Ida,” jawab si gadis kecil.
Gadis kecil bernama Ida itu kemudian berkata lagi, “Meskipun kamu anak dari kota, ternyata kamu tidak sombong. Kamu baik dan juga rendah hati.”
Nadia hanya tersenyum. “Iya, berbuat sombong itu tidak ada gunanya. Kalau kita sombong, pasti akan dijauhi orang. Yuk, Ida! Kita minum dawetnya sambil mendengarkan cerita kakek itu tentang Kota Pati.”
Ida pun mengangguk.
Setelah peristiwa itu, Nadia dan Ida mulai berteman akrab. Mereka menjadi sepasang sahabat yang baik.

Pati, 22 Februari 2017