Dimuat di Koran Kompas edisi Minggu, 30 April 2017
Tema: April Menghargai
Jika
kamu tahu Martin, dialah anak paling tinggi dan besar di antara anak-anak kelas
lima. Saking tingginya, sampai-sampai celana merahnya sudah cingkrang hampir
sejengkal di atas lutut. Orangnya ramah dan suka membantu yang lain. Dia baru
pindah dari Sorong, Papua beberapa bulan lalu. Sekarang dia tinggal di Desa
Cimahi, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Dia
mudah akrab pada teman-teman barunya di sekolah. Bahkan tidak sungkan untuk
berbagi cerita. Walau saat bercerita logatnya terdengar lucu di telinga kami.
“Sa punya Papa he, dipindah kerjakan di sini.”
Awalnya
yang lain sulit mengerti, ada juga beberapa yang tertawa, tapi lama-lama kami
terbiasa. Walaupun sering ditertawakan, Martin sedikit pun tidak tersinggung,
malah dia ikut tertawa. Merasa gembira bisa membuat teman-temannya senang.
Lain
halnya sikap Dimas, dia selalu iseng mengajak Martin bicara menggunakan bahasa
Sunda.
“Martin, parantos emam?”
“Hai,
Dimas. Ko su makan?”
Kedua
anak itu justru saling menanyakan apakah masing-masing mereka sudah makan atau belum.
Begitulah
ulah Dimas sejak Martin bersekolah di sini. Martin sendiri merasa tidak keberatan
dengan itu. Bagi Martin, Dimas justru sedang mengajarkannya berbahasa Sunda.
Hingga
suatu ketika, saat Dimas pulang sekolah mengendarai sepedanya dengan mengebut,
tanpa disangka, ternyata rem sepedanya rusak. Sehingga laju sepedanya tidak
bisa berhenti. Dimas berteriak panik. Sayangnya, jalanan sedang sepi, karena
waktu menunjukkan jam dua belas siang. Saatnya orang-orang yang bekerja di ladang,
pulang untuk makan dan shalat bagi yang menjalankan.
Pada
akhirnya sepeda Dimas masuk ke selokan dan patah jadi dua, sedangkan dia jatuh,
kakinya terasa sakit sekali. Dia terus meminta tolong. Kebetulan ada Martin
yang lewat. Martin melihatnya, kemudian segera mendekat untuk menolong. Tanpa
banyak bicara, karena hafal Dimas akan berbicara bahasa Sunda padanya—yang dia
tidak bisa mengerti—Martin langsung menggendong Dimas sampai rumah. Tubuhnya
yang tinggi besar tidak merasa susah saat menggendongnya.
Di
gendongan Martin, Dimas menangis. Antara menahan sakit, juga menahan malu atas
sikapnya selama ini. Dimas menyesal.
“Martin,
maafkan aku yang selama ini tidak menghargai kamu. Aku tahu kita berbeda suku,
berbeda bahasa dan logat, tapi aku bukannya memakai bahasa persatuan
kita—bahasa Indonesia—malah senang sekali mengejekmu dengan menggunakan bahasa
Sunda yang kamu belum mengerti.”
“Eh,
apa benar ko kata, Dimas? Sa kira ko selama ini, ajari sa
bahasa Sunda. Tapi tak apa. Ayeuna urang
geus bisa bahasa Sunda, saeutik-saeutik.”
Mereka
pun tertawa sepanjang jalan pulang. Sambil berjanji akan mengajari bahasa
daerah masing-masing.
Pati,
22 Maret 2017


